Kebenaran Relatif Ala PS

FachruddinManusia itu makhluk yang relatif, maka kebenaran yang mampu dicapainya sudah dipastikan juga merupakan kebenaran relatif, namun walaupun demikian PS itu juga sebagai usaha menyempurnakan kebenaran yang mampu dicapainya, dengan cara memantapkan ikrar justeru pada setiap kali tarikan nafas, sehingga kebenaran yang akan dicapai selalu atas dasar petunjuk Allah. Maka akan berbeda mutu dan kualitas kebenaran relatif antara kebenaran yang dicapai dengan ikrar dan pengakuan akan keesaan Allah dengan kebenaran tampa upaya memperbaiki hubungan dengan Allah.Swt.

Instansi pencari kebenaran terdiri dari ilmu, filsafat dan agama. Ilmu membatasi diri dengan hanya menerima sesuatu yang dapat dibuktikan secara empiris, yang artinya menggunakan alat indera, kebenaran ini disebut kebenaran inderawi. Memang ilmu memiliki segudang kelemahan, karena ternyata banyak hal yang diyakini keberadaan dan kebenarannya, namun tak mampu dibuktikan secara inderawi. Umpamanya waktu, semua orang meyakini akan adanya waktu, sementara inderawi hanya mampu menangkap suara tik tik tik suara detak jam dan putaran jarum jam, atau yang lebih besar lagi adalah putaran matahari, itu yang mampu ditangkap indera, lalu meyakini akan adanya waktu, semenatara detak dan jarum jam serta putaran matahari bukanlam adanya.

Kelemahan lainnya antara lain adalah ketika ilmu mempelajari ilmu hukum. Bila kita hanya berpatokan kepada hal hal yang mampu ditangkap oleh alat indera belaka, maka para mahasiswa huykum tak akan mampu memahami apa ilmu hukuim itu. Demikian juga dengan ilmu psikologi. Itulah sebabnya maka apa apa yang yang tak mampu dijamah oleh ilmu, maka manusioa akan menjelajahinya dengan cara menggunakan fiulsafat. Tetapi ketika filsafat kita gunakan maka akan semakin terasa kebenaran yang mampu kita capai adalah kebenaran yang sangat amat relatif.

Filsafat adalah cara berfikir bebas, free thinkers. Berfikir secara radik, artinya berfikir hingga ke akarnya. Metode yang digunakan adalah sebab dan akibat, umum ke khusus dan atau dari khusus ke umum, dan bermacam lagi. Belajar filsafat dapat kita tempuh melalui dua cara yaitu mempelajari hystorisnya atau mempelajari sistematikanya. Bila kita meminta dua orang filosof untuk membahas satu masalah, maka kemungkinan hasilnya bisa sama, bisa juga berbeda, dan bisa pula bertentangan. Membaca karya karya filsafat dari filosof terkenal maka kepala kita akan menjadi pusing.

Seorang mahasiswa fakultas hukum, tidak akan ada artinya kelulusan pelajaran yang lain manakala dia belum luilus mata kuliah filsafat hukum, sementara belajar filsafat hukum “menurut mahasiswa hukum”  akan lebih sulit dibanding mencara kayu salib nya Yesus. Seorang sarja hukum yang tak banyak memahami filsafat hukum nanti akan kentara kurang terampilnya dalam melaksanakan praktek sebagai advokad. Dalam perdebatan hukum kita akan memperhatikan keterampilan para ahli hukum itu menjelaskan sesuatu dengan ilmu hukum khususnya filsafat huykum sebagai dalilnya. Perdebatan para ahli hkum itu adalah perdebatan yang sulit dipersatukan, dan itu pula tandanya bahwa mereka hanya mampu mencapai kebenaran relatif belaka. Itulah sebabnya PS mengembangkan keterampilan para anggotanya untuk mencapai kebenaran intuitif, kebenaran intuitif lebih bermutu dari kebenaran filsafat, karena kebenaran intuitif PS kebenaran yang berada dalam bimbingan Allah, karena dicapai dengan memperkuat ikrar kepada Allah.

Kebenaran yang mutlak itu hayalah kebenaran dari Tuhan Allah Swt. Yang diturunkan melalui wahyu kepada Rasul. Tetapi tentu saja relatifitas manusia sebagai makhluk tak akan mampu menangkap firman itu secara benar tampa bantuan penjelasan itulah yang disebut dengan tafsir, itulah sebabnya ilmu tafsir sangat ketat mensyaratkan seseorang untuk menjadi mufassir, orang yang menafsirkan al-Quran. Tetapi sehebat hebatbya seorang mufassir tak akan dia mampu mencapai kebenaran mutlak. Melaikan hanya mendekati belaka.

Itulah sebabnyha PS mengajarkan dan bahkan melatih agar kita selalu beruapaya mendekati Allah dengan melaksanakan ikrar kepada Allah justeru dalam setiap kali tarikan nafas, setiap tarikan nafas kita akan menuju Allah, dan Allah berjanji akan menyongsong kita ” Bila engkau mendatangiKu dengan berjalan, maka Aku akan jemput dengan berlari” Demikian pentingnya ikrar itu, ikrar PS adalah Laailaaha Illallaah,

(Palembang 16 Januari 2014)

Baca Juga :

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s