Tujuan PS Adalah Meningkatkan Iman dan Takwa.

Dan Mati Dalam Keadaan Takwa Yang  Sebenarnya Takwa.

Fachruddin
Fachruddin

Di lingkungan sahabat sahabat sesama anggota PS yang tergabung dalam group facebook sering saling memperingatkan satu dengan yang lain prihal tujuan PS, tetapi sayang sering kurang tepat, masih banyak diantaranya mengira bahwa tujuan utama dan akhir dari PS adalah mengislamkan orang Islam, sebenarnya itu juga tidak keliru, tetapi itu bukan tujuan utama, tujuan utama PS adalah meningkatkan iman / takwa  dan mati dalam keadaan takwa yang sebenar benarnya takwa. Sedangkan mengislamkan orang Islam adalah merupakan salah satu tujuan antara dari berbagai tujuan antara lainnya, artinya tidak terhenti di  situ, karena setelah di Islamkan maka pada gilirannya keimanan dan ketakwaannya harus ditingkatkan.

Apa modal utama PS untuk meningkatkan takwa ? Do’a PS, Ikrar PS dan Trilogi jurus PS, yaitu gerak jurus, lafas dan nafas. Dari kesemua itu inti atau corenya adalah ” Laailaaha Illallaah ” yang diacu oleh Guru Besar, yang diacu oleh anggota dan yang diacu oleh organisasi adalah kalimah tauhid Laailaaha Illallaah. Yang sejalan dengan Laailaaha Illaallaah semua yang sejalan dengan kalimah Laailaaha Illallah maka otomatis sejalan dengan PS hatta belum disusun dalam dokumen tertulis atau diucapkan oleh Guru Besar. Dan apa apa yang bertentangan Laailaaha Illallah maka otomatis bertentangan dengan PS hatta belum disusun dalam dokumen tertulis dan belum diucapkan oleh Guru Besar. Komitmen PS kepada Laailaaha Illallah membuat penuturan Guru Besar dan keputusan organisasi berada di bawah Laailaaha Illallaah.  Dengan kata lain bahwa Guru Besar, Organisasi dan sidang anggota harus tunduk setunduknya kepada kalimah Thoyibah ini.

Tetapi walaupun demikian secara orgabisatoris maka struktur herargi tertinggi  adalah Guru Besar dan organisasi ada di bawah Guru Besar, Itulah sebabnya organisasi PS akan muncul beda dibanding  organisasi lainnya yaitu ketundukan bersama kepada AD dan ART, sementara di PS pada prakteknya bahwa organisasi dan AD/ART adalah untuk mendukung fungsi Guru Besar. Guru Besar di PS adalah merupakan satu satunya Guru Bear pada tubuh organisasi yang juga lazim menyebut dirinya sebagai perguruan. Seperti sering dituturkan oleh Bang Asfan sebagai Guru Besaar yang pertama bahwa PS disebut Perguruan karena di PS ada Guru Besar dan juga ada ilmu yang dikembangkan.

Sebagai satu satunya Guru Besar maka otoritas keilmuan hanya ada pada Guru Besar, dan PS sebagai ilmu adalah mutlak harus berkembang, lalu bagaimana caranya mengembangkan ilmu PS ini? Caranya adalah membuat strata keilmuan di PS yaitu berupa tingkatan tingkatan  (kasaran, halusan, tikahan, mahdi, syahbandar dan payung rasul). Dengan menyusun strata itu maka akan terjadi pendelegasian kewenangan menyangkut ujicoba dan rekayasa.  Sebagai ilmu dan Perguruan maka Prana Sakti harus berkembang secara dinamis. Untuk dapat berkembang secara dinamis memang harus ada penugasan penugasdan tertentu kepada para senioren PS khusunya pengampu Mahdi dan Syahjbandar.

Mahdi adalah tingkatan yang sangat layak diberikan kewenangan untuk melakukan ujicoba dalam bentukl konfirmasi jurus.  Sebagaimana kita ketahui bahwa Guru Besar telah membuat masing masing jurus PS  memiliki peruntukan peruntukan tertentu, dan kemampuan mencapai atau mengkonfimasi peruntukan itu diosebut dengan kompetensi. Akan keliru besar manakala kita sebagai anggota PS melakukan pembiaran terhadap ketidakmampuan para anggota mencapai kompetensinya. Itulah tugas Mahdi karena Mahdi memiliki kemampuan memberikan bimbingan dan clinics bagi para anggota yang sulit mencapai kompetensi itu.

Ketidakmampuan para anggota mencapai kompetensi yang seharusnya telah dicapainya maka berarti yang bersangkutan mengalami gap, gap antara tujuan dan kenyataan, semua orang tahu bahwa yang disebut gap itu adalah masalah, oleh karenanya para anggota yang mengalami gap disebut sedang bermasalah. Apa masalah yang dihadapinya, adalah merupakan tanggung jawab pengampu Mahdi untuk membantunya dengan melakukan berbagvai ujicoba. Ujicoba tentu harus dilakukan secara berulang ulang hingga benar benar terfjadi persamaan hasil ketika ujicoba itu dilaksanakan, hasil ujicoba yang konsisten adalah merupakan sesuatu yang perpeluang dibakukan.

Lain lagi pengampu Suahbandar, tugasnya lebih berat yaitu menyelesaikan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh para anggota terkait aktivitas kehidupan sehari hari  yang sejatinya tidak terkait jurus, namun sebagai PS maka masalah masalahj itu harus dihadapi dengan jurus. Jurus PS itu adalah gerak, lafas dan nafas, yang intinya adalah Laailaaha Illallaah. Bagaimana seorang anggota PS mengantisipasi segala permasalahan dengan menggunakan  prinsip Laailaaha Illallaah. Bagaimana kita berfikir dengan Laiilaaha Illallaah, bagimana kita bersikap, bagaimana kita berbicara dan bagaimana cara kita beraktivitas dengan prinsip Laailaaha Illallah. Itulah yang dituntunkan oleh pemangku Syahbanda.

Sebaiknya hasil hasil ujicoba oleh Mahdi dan rekayasa jurus oleh Syahbandar segera saja  dilaporkan kepada Guru Besar, karena belum lazim Mahdi menyelenggarakan tugasnya, dan sayahbandar menunaikan tanggung jawabnya, manakala hasil ujicoba dan rekayasa jurus ini terekspose kepada para senior maka kenyataannya para senior bukannya  tertarik  dengan informasi yang diberikan bahkan sebaliknya justeru mengundang kemarahan. Ujicoba dan rekayasa sejatinya harus dilakukan secara berulang ulang hingga hasilnya konsisten, hasil ujicoba dan rekayasa jurus yang telah konsisten  hasilnya bisa dibakukan. Manakala ujicoba i ni mendapatkan masukan dari berbagai pihak, maka akan mampu mencapai hasil  yang baik. Tetapi kenyataannya bukan masukan yang didapat.

Dengan adanya pengalaman ujicoba dan rekayasa yang berlandaskan Lailaaha Illallaah itu adalah maka itu secara otomatis adalah aktivitas pembuktian  akan kebenaran komitmen kita kepada Laillaaha Illallaah itu. Bagaimana cara kita berpegang teguh kepada komitmen kita itu, maka cara itu sangat tergambar pada jurus jurus PS yang sangat menggambarkan tinnginya dinamika  di lingkungan PS. Komitmen Lailaaha Illallaah itu bukan sesuatu yang pasif, melaikan sesuatu yang dinamis, sejalan dengan dinamika kehidupan. Lalu semua dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan iman dan takwa, dan pada saatnya kita semua mati tetkala sedang takwa yang sebenar benarnya takwa.   Insya Allah.

Martapura, OKU Timur 1/3/2014

Baca Juga :

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s