Kebohongan Akan Berujung Pada Kehancuran Bersama

Fachruddin PS LampungTulisan seorang senior PS tentang cerita Kota Irom dan Kaum ‘Aad membuat kita semua menjadi tersentak, sungguh sangat tersentak dengan keteragisan yang dialami oleh Kaum Aad yang menempati kota Irom itu. Kota Irom adalah kota terbaik dunia tetapi hancur berantakan hanya diakibatkan oleh sebuah kebohongan, ketika masyarakat Irom membiarkan menyebarnya sebuah kebohongan dan justeru memuliakan sepembohong itu maka pada gilirannya kehancuran kota megah nan modern itu menjadi hancur berantakan. Para saudagar kaya cerdik cendikia tidak memiliki kemampuan menggalang kekuatan menegakkan kebenaran, kebenaran itu akan sulit ditegakkan selama masih menghormati dan bahkan memuliakan sipembohong.

Ada dua komunitas yang telah terkubur di Kota Irom, yang berada pada periode yang berbeda, tetapi memiliki nasib yang sama, dan penyebabnya sama pula, karena sangat percaya kepada kabar bohong, membiarkan, menghormati dan bahkan memuliakan sipembophong, dan ketika mereka berdiskusi, mereka diskusi berdasarkan kebohongan, ketika mereka bersepakat mereka sepakat berdasarkan kebohongan, dan ketika mereka mengambil kesimpulan, maka kesimpulan yang mereka sepakati berdiri di atas sendi sendi kebohongan itu.

Generasi pertama yang menempati kota Irom adalah generasi luar biasa modernnya pada era mereka. Mereka membuat suatu kota tercantik didunia pada saat itu. Mereka berhasil mengolah sebuah batu raksasa yang mereka toreh dan mereka pahat, sehingga didalam batu itu menjadi sebuah perkotaan yang sejuk nyaman  ditempati. Sekalipun kota itu terbuat dari sebuiah batu, yaitu sebuah batu besar yang dan mereka membuat perkotaan di dalamnya.  Tetapi kota itu tidak pengap, karena selain memiliki fentil;asi yang sempurna, demikian juga rumah rumah yang ada di dalamnya, semuanya nyaman ditempati,  Sinar mentari cukup,  sehingga sehingga tanam tumbuhpun berkembang segar, taman taman indah bak surga jannah laiknya.

Sayang ketika mereka diterpa oleh cerita cerita bohong, tetapi mereka sangat meyakini kebenaran cerita bohong itu, mereka bukan saja simpati atas segala kebohongannya itu, dan bahkan merasa perlu untuk tetap menghormati dan bahkan memuliakan si pembohong itu.Maka menyebar kebohongan adalah sesuatu yang menjadi jamak adanya. Sebuah kebohongan mendadak menjadi sebuah kesepakatan dan kebersamaan. Maka mulailah permasalah timbul, segala urusan tak pernah lagi klop, segala sesuatunya tak ada yang tidak menyisakan permasalah. Semuanya akan menjadi masalah. Yang bukan masalah kan menjadi masalah, masalah yang kecil harus dibesar besarkan, masalah besar apalagi. Masalah yang seyohyanya selesai kembali diungkit lagi. Semua masyarakat yang berdiam diperkampungan iyu mendadak sontak hiruk pikuk tek henti hentinya menerpa. Tak ada yang ingin menyudahi, bahkan sebaliknya merasa perlu menyiram bensin dikobaran api permasalahan itu.

Akhirnya murka Allah tak terhindari, ketika masing masing mereka memiliki potensi untuk menyumbangkan kehancuran atas diri mereka bersama. Tidaklah perlu benar Allah mendatangkan air bah, yidaklah perlu benar Allah  mendatangkan angin beliung itu. Cukup Allah mendatangkan gempa dalam schala righter yang sangat halus, tetapi gempa itu sangat rajin datang. Kecilnya gempa itu sehingga tak seorangpun yang terlalu memperdulikannya, tetapi karena seringnya gempa itu menerpa, maka rusaklah ikatan ikatan kukuh yang selama ini melindungi perkoptaan itu. Apalagi belakangan ini gedung dan perkotaan itu telah dipelihara secara berbohong bersama sama, maka ikatan itu semakin hari semakin mengancam semua penduduk yang ada di dalamnya.

Tetapi aneh bian ajaib para penduduk di situ tak jua mau meninggalkan perkotaan itu, mereka demikian bangga dengan kemodernannya, mereka bangga dengan kemegahannya, mereka bangga dengan segala kenyamananya, mereka bangga dengan tanam tumbuh didalamnya, mereka banga dengan sungai buatan yang melintas di  dalam kota itu. Mereka lebih memilih erkubur bersama apa yang sangat mereka banggakan. Gempa halus itu menjadi air bah dari sungai buatan yang mereka bangun, anginpun berdesing lebih dahsyat dari beliung yang mematikan. Merekapun terkubur bersama perkotaan indan modern itu tampa meninggalkan seorangpun.

Berabad kemudian, tinggal lah diatas tanah subur yang menyimpan rahasia sejarah manusia di bawah tanah yang mereka pijak. Jadilah disitu sebuah kota yang megah dihuni oleh para cerdik cendikia, serta saudagar kaya kaya raya. Satu oersatu dibangun di kota itu gedung gedung tinggi menjulang, Sulit mencari ada orang miskin di sana, aneh bin ajaib kota yang mereka tempat itu ternyata  sepakat mereka namai Kota Irom, padahalah pada saat itu tak seorangpun diantara masyarakat yang mengenal adanya kota Irom yang opernah berdiri di situ. Kalau dahulku kota Irom di situ dihuni oleh komunitas masyarakat yang berhasil mengolah batu besar menjadi kota yang sejuk dan asri. Maka kota Irom yang kedua ini diwarnai oleh berdirinya gudeng geung tinggi pencakar langit. Dalam al-Quran disebutkan bahwa pada saat itu tidak ada gedung gedung di dunia itu setinggi gedung dan bangunan di kota Irom.

Tetapi kota Irom yang kedua ini memiliki nasib yang sama, kota itu hancur dan berantakan diakibatkan oleh kebiasaan berbohong dan bahkan mereka selain tetap menghormati si pemmbohong mereka juga bahkan sangat memuliakannya. Sungguhn sungguh kebohongan itu akan membuat rusak segalanya. Penduduk kota Irom yang gagh dan perkasa, perlambang segala prestasi ilmu dan perekonomian hancur berantakan. Nagara manapun, komunitas manapun, manakala telah percaya kepada pembohong maka sehebat apapun negara atau komunitas itu tak  terkecuali, maka kehancuranlah yang menantinya.  Walloihua’lam bishowab.

Martapura, 11/03/2014

Baca Juga :

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s