Petunjuk Menangani Penghianat Organisasi.

 

Fachruddin PS LampungPengurus Prana Sakti Lampung tidak pernah gegabah dalam menangani anggota yang dituduh telah menghianati PS. Atas kesalahan seorang senior yang membuat organisasi baru, Maka setidaknya kalimat Bang Asfan yang selalu saya ingat adalah   ” … Tolong peringatkan Ia, … tetapi bila itu tidak diperhatikannya, ya sudahlah …, itu semua tanggung jawab Abang sebagai Guru Besar. Tetaplah kalian bergaul sebagai layaknya sesama muslim …, saling hormat menghormati seperti baiasa”.  Sedangkan petunjuk Bang Zen dalam kasus seseorang anggota yang telah sempat menjadi anggota pergurusn lain, adalah sebagai berikut : ” Layani Ia sebaik mungkin … latih dia kembali mulai dari kuda kuda lalu berikan pencerahan (pengarahan), berlatih lagi …, pencerhan lagi … lanjutkan ke jurus berikutnya …., dan selesaikan itu semua dalam 20 kali pertemuan. Begitu dua petunjuk Guru Besar, setidaknya pernah terjadi di Lampung. Saya menyimak komentar di FB nampaknya gagasan yang muncul adalah hanya berdasarkan selera masing masing saja. Termasuk diantaranya adalah hukuman terhadap pengurus PS Lampung yang telah dituduh membelot dari organisasi, vonis hanya bersifat pribadi, walaupun dilakukan bersama sama.

Namun walaupun demikian memang PS harus memiliki kaidah cara penanganan terhadap perorangan atau kelompok, atau lembaga seperti Pengurus Cabang umapamnaya seperti yang dituduhkan pada Pengurus PS Lampung. sehingga vonis tidak lagi dijatuhkan berdasar selera pribadi dan slera masing masing dengan hanya menggunakan dalih dan mengklaim diri sebagaio orang atau pihak yang paling tahu, paling setia dan paling berjasa dengan  PS. Seperti apa yang dicontohkan oleh Bang Asfan terhadap kasus seorang senior yang mendiriksan organisasi atau perguruan sendiri  umapamanya, Pengurus dan senior yang ada di daerah itu hanyalah diberikan kewenangan untuk menasehati, tetapi bila nasehat nasehat telah disampaikan kepada yang bersangkutan ternyata yang bersangkutan masih kekeh akan sikapnya, maka serahkanlah segala sesuatunya kepada Guru Besar. Sementara kami diarahkan untuk bersaudara sebagaimana biasanya antar sesama sahabat dan sesama muslim.

Memang benar amanah Guru Besar saya sampaikan secara empat mata, waktu saya menyampaikan pesan bang Asfan yang bersangkutan tak menjawa, dan buang muka. Lalu opada suatu saat yang bersangkutan datang ke Bengkel PS dengan dalih mencari saya, dan pada saat itu saya menga tidak bisa datang ke Bengkel, dia sendiri yang mengatakan di Bengkel bahwa Fachruddin telah mencoba mensehati saya …, memang Fachruddin itu tahu apa tentang PS, demikian inti katanya, yang tentu saja banyak kata kata lain yang tak pantas dituliskan di blog ini. Pesannya yang terakhir adalah “Suruh Fachruddin menghadap saya, untuk belajar tentang PS”. Pesan sudah saya terima, tetapi menghhadapnya untuk belajar dari yang bersangkutan untuk belajar tentang PS hingga hari ini tak saya lakukan. Setelah itu, ketika Bang Asfan berkunjung ke Lampung, saya segera meloporkan ke Guru Besar, dan pesan guru besar kembali mengatakan agar kami tetap berhubungan sebagai sesama muslim, urusan penghianatan dan semacamnya diserahkan sepenuhnya kepada Guru Besar.

Lain lagi kasus seseorang yang sempat masuk perguruan lain. Kasus ini merujuk kepada petunjuk Bang Zen. Kini giliran Bang Anto yang menanganinya, di luar karakter aslinya bang Anto dalam menangani kasus ini nampak sekali ramah dan bersahabat. Atau mungkin yang bersangkutan adalah perempuan. Atau bang Anto sempat ada yang memberi tahu bahwa yang bersangkutan dahulu besar konstribusinya bagi PS. Atau barangkali beliau telah diberitahu tentang petunjuk Bang Asfan bahwa apapoun kesalahannya tetaplah harus menjaga ukhuwah Islamiah. Tetapi walaupun demikian yang bersangkutan menghilang padehal belum lagi pencerahan mencapai du pulub kali pertemuan.

Berbeda dengan Pngalaman Cak Syam, dia menangani pembelot dan ini barangkali yang saya anggap paling heboh. Di mata pembelot ini Cak Syam bukan apa apa, tetapi ketika dia harus kembali ke PS setelah beberapa tahun membelot ke Perguruan lain yang membimbingnya untuk pencerahan ternyata Cak Syam, jelas ini sangat menyiksa batin yang bersangkutan. Cak Syam menjelaskan apa itu PS, maksud dan tujuannya, siapa pendirinya dan bagaimana perjuangannya. Sebenarnya yang bersangkutan sudah tahu semua tentang apa yang dijelaskan oleh Cak Syam, tetapi itulah prosedurnya, dan yang bersangkutan harus sabar menantikan penjelasan itu hingga selesai.

Tahap berikutnya Cak Syam memperkenalkan ABCD dan bagaimana cara melaksanakan ABCD itu  terkait pengaturan pernafasan. Tepukan pertama, tepukan kedua, dan tepukan ketiga. Semula jarak tepukan pertama, kedua dan ketiga dalam durasi yang seimbang, berikutnya durasi mulai menjomplang, berikutnya lebih menjomplang, ketiga sangat menjomplang, keempat yang bersangktan mulai tak mau menerima menark dafas dengan sistem cak Syam, ketegangan  antara keduanya mulai nampak. tetapi tar8ikan nafas ini akhirnya selesai dalam putaran yang kelima.

yang bersangkuytan diajari oleh Cak Syam sistem kuda kuda PS, anehnya kuda kuda yang bersangkutan sepertinya sangat sulit untuk ditirukan oleh yang bersangkutan, kuda kuda yang dibuatnya tidak sesuai dengan perintah Cak Syam keteganganpun tak terekarelakkan, yang bersangkutan membentak Cak Syam, dan Cak Syam balas membentak dengan suara yang lebih keras. Apalagi fisik Cak Syam jauh lebih prima.

Ayo kita beradu tenaga … kata yang bersdangkuta

OK … Siap ! hentak cam Syam. Pilih dengan cara bagaimana mau kamu … ? sergah Cak Syam pula …

Yang bersangkutan diam … nampaknya dia keder juga melihat bentuk Fisik Cak Syam  yang mengesankan kedot itu.  Matapun bertemu mata ,,,, akhirnya yang bersangkutan tertunduk … berbalik  memakai banjunya kembali … meninggalkan tempat dan tak kembali lagi.

Apa yang dilakukan oleh para senior kini membuat semakin tidak jelas, mereka membuat masalah indisipliner ini hanya berdasarkan seleramasing masing, dan bentuk hukumanpun suka suka. Seperti Pengurus PS Lampung umpamanya telah divonis menentang Guru Besar hanya lantaran sering melakukan ujicoba dan kajian kajian tentang ilmu dan jurus PS. Stempel salah telah mereka voniskan tampa mau mendengarkan penjelasandari pihak pihak yang tertuduh, dan lebih serunya lagi, dengan melangkahi kewenangan Guru Besar, mereka memvonis bahwa PS Lampung telah melangkahi kewenangan Guru Besar. Hendaknya preseden buruk seperti ini harus kita hindari bersama.

Benar, ada baiknya PS itu membuat aturan PROTAP bagaimana menangani insidpliner organisasi, dan harus ditentukan juga definisi definisi yang disebut indisipliner itu. jangan sampai para seniorpun suka suka saja menganggap seseorang telah bertindak indisipliner, dan secara suka suka juga menjatuhkan vonis, sehingga vinis dijatuhkan secara berulangkali, karena tidak jelas siapa yang berwenang mengekskusi hukuman kepada si pembelot.  walloha’lam bishowab.

Baca Juga :

 

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s