Membangun Mindset PS

Fachruddin PS LampungAda pemberitahuan yang berbau peringatan bahwa para senior PS Pusat sedang membangun rancangan pola pikir PS, atau dengan istilah yang sedang tren adalah “mindset” kata kata mindset ini banyak dipakai untuk membangun sesuatu yang terkait tujuan tertentu seperti motivasi, sukses study, bisnis, berpolitik dan lain sebagainya. Sejalan dengan itu akhir kahir ini juga orang banyak menggunakan istilah karakter bangsa. Dikatakan berbau peringatan karena pekabaran itu disampaikan untuk mengingatkan para anggota untuk tidak membawakan pemikiran lain selain dari  pemikiran PS yang sejak awal telah dirancang oleh Bang Asfan yang juga sekaliguis sebagai Guru Besar yang kini dilanjutkan oleh Bang Zen sebagai Guru Besar pengganti.

Mungkin dengan maksud yang tak berbeda tulisan tulisan di dalam blog ini juga adalah dalam rangka membangun mindset yang hingga tulisan  terakhir ini belum ada sesuatu yang baru, tetapi masih mengotak atik kaji lama, yang masih kopy paste dari ceramah Bang Asfan dan Bang Zen yang karena seringnya mendengarkan Bang Asfan ceramah yang dalam satu tahun bisa mencapai 5-6 kali kunjungan, dan setiap kunjungan tiga malam berturut turut dan terjadi pengulangan dan penambahan materi ceramah plus ketika dalam perjalanan menjemput dan mengantar Guru Besar ke Bandara dan juga memanfaatkan waktu sebelum tiba saat penerbangan dan pengumuman para penumpang dipersilakan masuk pesawat.

Modal dasar menulis blog PS Lampung adalah dari ceramah ceramah itu berjalan bertahun tahun, sehingga banyak sekali kalimat kalimat yang disampaikan menjadi hapal, karena kalimat itu diperlancar pula ketika mengisi waktu ceramah sekitar sepuluh menit sebelum latihan bersama, dan latihan bersama dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggui dan itupun berlangsung hingga hampir sepuluh tahun lamanya. Apa yang disampaikan semua terinspirasi dari Ceramah Guru Besar baik Bang Asfan maupun Bang Zen, sehingga Bang Zen menyimpulkan bahwa segenap senior PS memiliki pola pikir dalam koridor PS.

Tidak terlalu sulit bagi anggota PS untuk mengidentifikasi mindset PS, tarik saja benang merah sebagai inti (core) PS, yang itu sudah sangat jelas karena selalu kita ucapkan sebagai ikrar “Apapun yang terjadi sampai mati saya tetap berpegang kepada Laailaaha Illallaah”  sehingga apa apa yang sejalan dengan Laaillaha Illallah maka sejalan dengan PS dan apa apa yang tidak sejalan dengan Laailaaha Illallaah maka berarti tidak sejalan dengan PS.

Untuk memahami mana mana yang sejalan dan mana yang tidak sejalan maka kita harus mempelajari ilmu tauhid, yang setidaknya ada tiga hal yang hartus dipelajari yaitu tauhid rububiyah , tauhid uluhiyah serta sifat sifat Allah, dan kajiannya adalah ilmu kalam, filsafat ketuhanan (Islam) dan akidah Islamiayah. Ilmu ilmu ini adalah dalam rangka menghhindarkan diri dari kemusyrikan. Semua harus mengacu kepada Al-Quran dan hadits, maka keduanya mutlak harus dipelajari dan diamalkan.

PS memperkenalkan cara berpegang kepada Lailaha Illallaah itu yaitu dengan jurus jurus PS. Untuk itu PS memperkenalkan triloginya yaitu lafas, nafas dan gerak, yang sebelum itu dilakukan didahului dengan pembacaan ikrar dan doa terlebih dahulu. Dalam membuat jurus adalah dengan prinsip jurus boleh salah, nafas boleh salah, tetapi lafas tidak boleh salah, sebelum membuat jurus mengucapkan basmalah tidak boleh lupa. Setiap kali tarikan nafas kita tuntas berikrar Lailaaha Illallaah. Sedang nafas yang masih salah serta jurus yang masih belum sempurna akan disempurnakan kemudian sambil latihan rutin.

Kadar keampuhan telah diujicobakan terlebih dahulu sebelum jurus jurus itu dibakukan, kegunaan jurus serba sekilas telah disampaikan, tetapi ternyata kegunaan jurus banyak sekali, lebih banyak yang belum disampaikan dibanding dengan apa yang telah disampaikan, PS memberikan jalan  kepada para anggota anggotanya untuk menemukan sesuatu, dan penemuan penemuan itu sangat memungkinkan, tergantung kepada usaha kita memperbaiki jurus kita masing masing  serta usaha mendekatkan diri kepada Allah. Prinsip yang harus dipahami adalah apa yang kita lakukan maka itulah yang akan didapat.

Bagi PS yang tidak melakukan apa apa maka selain latihan, maka Ia ‘hanya’  (dalam tanda petik)  akan mendapatkan sehat fisik dan juga bisa sehat jiwa karena kita berolah raga di lingkungan majelis zikir. Tetapi untuk lebih dari itu dia harus action, dari dahulu Bang Asfan mengatakan bahwa iytu yang kau perbuat maka itu pula yang akan kau dapat. Kata kata ini jangan dijadikan justivikasi akan kegagalan kita dalam belajar PS, bahwa kita bukan gagal tetapi memang kita tidak berusaha untuk sukses. Membangun mindset para anggota PS is OK karena kita masih banyak yang keliru bersikap. Sukses Para Senior

Palembang 23 Oktober 2014

Baca Juga :

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s