Man Jadda wa Jada

Fachruddin PS LampungBagi yang pernah nyantri, walaupun sebentar, atau  sekedar ngalong di pesantren tetapi tidak tertib, maka kita akan temukan istilah ‘man jadda wa jada’  yang artinya barang siapa yang bersungguh sungguh maka dia yang akan sukses. Tetapi Bang Asfan lebih memilih  bahasa Indonesia “Apa yang Kamu Perbuat Itu yang Kamu Peroleh” katanya kepda kita semua dan kita sudah mahir menirukan ucapan beliau itu. Sering kata kata itu kita fatwakan bagi anggota yunior kita, walaupun sudah sejak awal kita tak pernah mematuhinya, atau tidak menindaklanjutinya.  Apa yang saya tuliskan di Blog ini terinspirasi dari Guru Besar Juga. Bahwa Guru Besar mendorong gar jurus jurus PS tidak hanya dilakukan ditempat latihan saja tetapi lakukanlah jurus PS itu dalam kehidupan sehari hari yang terkait tempat, pristiwa dan lain sebagainya, seyogyanya jurus PS itu hadir di sana, yang secara otomatis kita menghaduirkan Tuhan, Karena inti jurus PS adalah Tiada Tuhan selain Allah.

Sepanjang senior Cabang Lampung  yang saya ajak bicara secara langsung,  mereka pada umumnya memiliki banyak alasan pembenaran mengapa jurus jurus itu tak digunakan diberbagai aneka pristiwa yang sejatinya dia ada di sana dan selayaknya jurus di buat. namun demikian pada akhirnya dapat saya simpulkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana dan apa yang harus diperbuat. Sedang alasan alasan yang dikemukakan itu hanya upaya pemebenaran terhadap ketidaktahuannya. Berdasarkan pengamatan kasar semenjak saya aktif di PS ada 90% para anggota yang terkategori tidak mampu memanfaatkan jurus bagi kahidupan sehari hari, walaupun dengan mata kasar, banyak diantaranya nyaris sempurna atau diatas rata rata ketika membuat jurus pada saat latihan. Padahal jurus itu banyak bocor

Anggota PS yang terbaik dan ideal adalah anggota PS yang memiliki banyak kemampuan memanfaatkan jurus PS bagi kepentingan orang banyak, ini mengacu kepada sebuah hadits yang mengatakan sebaik baik kamu adalah orang yang banyak berguna bagi orang lain. Maka sebaikmbaik anggota PS adalah anggota yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan jurus PS itu yang memberikan kemanfaatan bagi orang lain, orang banyak. Memang ditinjau dari sisi organisatoris akan ada orang orang yang baik yang telah memberikan konstribusi dalam menjaga dan mengembangkan eksistensi organisasi, ada yang memberikan konstribusi dalam bentuk pembiayaan dan pengadaan fasilitas, ada yang memiliki konstribusi besar dalam mencari anggota dan lain sebagainya. Tetapi dalam hal ini saya ingin menatapnya dari sisi khusus, yaitu sisi jurus PS, yang kita tahu bahwa jurus PS itu sekalipun bukan core, tetapi adalah sangat vital.

Dengan sedikitnya anggota PS yang keterampilannya menggunakan jurus PS nya semakin berkembang bagi saya cukup memprihatikan, pada saatnya dengan jumlahnya yang semakin berkurang itu nanti akan sangat mengganggu eksistensi PS secara keseluruhan.  Itulah sebabnya saya menggagas  untuk dibiasakannya melakukan ujicoba bagi para anggota sehingga jumlah mereka yang mampu memanfaatkan jurus dalam kehidupan sehari hari bertambah. Memang dahulu Guru Besar sebelum membakukan jurus jurus PS  telah mengujicobakannya terlebih dahulu, tetapi ujicoba yangh saya maksudkan tentu saja berbeda dengan bobot ujicoba yang harus dilakukan para anggota. Ujicoba yang saya gagas adalah dalam rangka melatih kemampuan untuk mengkonfirmasi semua yang diajarkan oleh Guru Besar.

Kalau dikatakan bahwa rasa cabai adalah pedas, maka selayaknya kita semua harus mampu mengkonfirmasi rasa cabai yang pedas itu, sehingga kita bukan hanya menduga duga saja pedasnya cabe itu, bila kita hanya menduga lalu memunculkan pertanyaan yang berkepanjangan akan pedasnya rasa cabai..  “We will never know the real answer, before you try.”  kita tidak akan tahu jawaban yang sebenarnya, bila tidak mencobanya sendiri. Kita tidak akan tahu pedasnya cabai sebelum kita mencicipinya. 

Dan kita tidak akan tahu sedapnya sambal bila tidak mengujicobakan bahwa cabai plus tomat, bawang dan terasi serta sedikit garam bila tidak mengujicobakannya sendiri. itulah makna ujicoba yang saya gagas. Dalam PS seperti pesan Bang Asfan alm “Itu yang kau perbuat, itu yang Kau dapat”  … man jadda wa jada. Bukankah para pakar telah menggariskan dalam sebuah kelompok dan apalagi kelompok belajar maka ada tahap tahapannya, di mulai datu Will to active, will to do lalu will ta prestatio. Masuk PS bukan hanya sekedar untuk aktif berlatih, tetapi dia juga menginginkan untuk dapat melaksanakan sesuatu dari apa yang dia pelajari bahkan dia juga ingin memiliki prestasi yang baik yang ditopang oleh jurus jurus PS.Dengan demikian eksistensi PS akan dapat kita pertahankan,

Baca Juga :

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s