Persiapan Menuju Mengampu Payung Rasul

Fachruddin PS LampungKapan sebaiknya kita mengampu jurus Payung Rasul, menurut saya pada usia 40 tahun adalah usia yang  paling ideal menerima Payung Rasul, karena mengampu jurus puncaknya ini membutuhkan kematangan dan kemapanan. Pada usia itu sejatinya orang tidak lagi menjadi orang yang digaji, tetapi justeru dia yang menggaji, sudah final dalam memilih profesi, sudah memiliki usaha sendiri, sudah memiliki aset kekayaan untuk menjamin kehidupan isteri dan anak anaknya. Untuk itu sebelum usia 30 tahun dia sudah menuntaskan segala pendidikannya termasuk kursusu serta segala sesuatunya tentang apa yang akan digelutinya mulai usia 30 tahun nanti. Silakan dari usia 30-40 dia menjadikaryawan yang digaji, tetapi masa sepuluh tahun itu adalah masa yang  sangat cukup untuk mengumpulkan kekayaan, tabungan  untuk hidup mandiri sejak usia 40 tahun.

Sampai dengan  usia 30 tahun seseorang harus sudah betul betul profesiona, memiliki pengetahuan dan wawasan serta keterampilan yang luar biasa, sangat dibutuhkan oleh perusahaan sehingga mendapatkan kepercayaan darai atasan dan bahakan disayangi oleh perusahaan, sejak itu kita akan digaji oleh perusahaan  sebesar apa yang kita mau. Bekerja selama 10 tahun di perusahaan itu kita telah menguntungkan perusahaan dalam jumlah keuntungan yang sangat luar biasa.. Maka sewajarnya saja bila pada usia 40 tahun kita berdiri sejajar dengan perusahaan itu, sebagai mitra yang saling menguntungkan. Selaku karyawan, selaku pengusaha kita akan sangat dihargai oleg perusahaan manakala kita mampu memberikan meuntungan kepada perusahaan, dan cara yang paling profesional adalah sama sama saling menguntungkan.

Jika tidak juga profesional kita belajar hingga usia 30 tahun, dapat dipastikan bahwa kita telah menyia-nyiakan banyak waktu dalam hidup lita. gagal pada tahap ini maka kemungkinan besar kita akan gagal pada tahap berikutnya. Tahap berikutnya adalah kita menjadi karyawan, sudah dapat dipastikan kita hanya akan menjadi karyawan kecil yang tidak dipoerhitungkan dalam kegiatan perusahaan manakala tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luar biasa di atas rata rata. Dan akibatnya nanti sampai dengan usia 40 tahun kita tetap akan menjadi karyawan kecil yang hanya dihargai sebatas lamanya bekerja, bukan prestasi kerja. Gaji kita di perusahaan akan menjadi besar bila kta mampu mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Kita akan digaji sebanyak sepertiga kali keuntungan yang mampu kita datangkan, spertiga untuk biaya operasionalk perusahaan, sepertiga lagi untuk keuntungan perusahaan.

Sepuluh (10) tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk kita berbagi keuntungan dengan  perusahaan, dan kita siap bermitra dengan perusahaan  dengan setara, karena kita sangat mampu memberikan keuntungan perusahaan manapun dalam memasarkan produknya. Dengan demikian maka berarti kita sudah mapan. Ketika kita mapan maka sepantasnya kita menerima jurus Payung Rasul untuk kita ampu.

Rasulullah SAW dalam mencapai profesionalisme  dalam bekerja maka kejujuran dijadikan poros dalam pikiran sikap dan tindakannya. Jujur dalam berfikir, jujur dalam bersikap, jujur dalam berucap serta jujur dalam bertindak. Itu adalah jalan mutlak dalam mencapai profesionalisme bekerja. Rasululaah sama dengan kita beliau juga diawali sebagai karyawan. Beliau bekerja pada usaha perniagaan, milik seorang wanita kaya. Beliau bekerja mulai dari karyawan biasa, hingga menjadi barisan Direksi dan bahkan belakangan menjadi Direktur Utama.

Pada usia 40 tahun beliau benar benar telah mapan dengan bermodalkan kejujuran, termasujk jujur kepada dirinya sendiri. Maka wajar saja bila akhirnya beliau memiliki saham yang tidak kecil pada perusahaan yang keloanya itu, dan dalam berniaga beliau sempat tiga kali melakukan perjalanan perniagaan ke luar negeri hingga tiga kali banyaknya. Dalam sekali lawatan membutuihkan waktu selama 3 bulan, berangkat dengan 100 ekor unta pengusung barang dagangan serta peralatan lainnya, dengan karyawan yang mendekati 100 orang pula jumlahnya dengan berbagai pembagian tugas juga secara profesional. Berangkat dengan menjajakan produk dalam negeri dan pulang denga membawa produk asing yang dibutuhkan di dalam negeri.

Muhammad SAW bukan hanya berniaga secara profesional, tetapi tidak tanggung tanggung, sehingga banyak keuntungan yang mampu diraih oleh perusahaan, dan banyak keuntungan yang mampu di bawa pulang (take home pay) Dan ketika beliau diangkat sebagai Rasul beliau berhenti beraktivitas sebagai peniaga, perniaagaan itu dilanjutkan oleh orang lain. Dan keuntungan selama itu sangat mencukupi untuk mendukung aktivitasnya untuk berdakwah. Itu yang harus kita teladani dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengampu jurus Payung Rasul.

Palembang,  11 September 2015

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s