Diskusi Cara PS

Fachruddin PS LampungUntuk mencapai derajat mengerti dan paham seperti apa yang diinginkan oleh Bang Zen sebagai Guru Besar PS maka sering seringlah melaksanakan diskusi dengan cara PS. Bagaimanakah cara PS berdiskusi ? Ijinkanlah saya bercerita. Ring telepon celuler berbunyi dan saya angkat lalu bertegur sapa selayaknya. Dia meminta waktu katanya untuk diskusi kecil, karena jarak kami cukup jauh, lalu Ia mengajak diskusi lewat telepon celuler ini. Apa tidak sebaiknya anda menulis saja nanti dimuat di blog ? Tanya saya. Lalu dia mengatakan bahwa dia merasa kasihan kepada saya bahwa nanti saya akan menanggung malu. Dari kalimat tersebut diatas maka sudah terbayang di benak kita diskusi semacam apa yang ingin dilakukan oleh si penelepon. Saya akan tegaskan diskusi secara yang diinginkan oleh si penelpon tadi itu bukanlah diskusi yang dianjurkan oleh PS. Bukan akan mendapatkan kebenaran, tetapi justeru permusuhan.

Simak cerita selanjutnya… Dia mengutip  ernyataan  sebuah kalimat yang saya tulis di blog PS Lampung. Lalu tulisan itu dikatakannya sebagai tesa, lalu dia menyampaikan  antitesanya, lalu dia meminta saya membantah antitesa yang dia lontarkan, saya ikuti apa maunya…, lalu … anda semua dapat menebak  perdebatanpun terjadi, lalu berhamburanlah   kalimat kalimat bertentangan yang terlontar dari kami berdua. Jika yang satu kekanan, maka yang lain ke kiri, sebaliknya bila yang satu ke kiri maka yang lain kekanan, saya ikuti terus apa seleranya.

Maka berhamburanlah pemikiran pemikiran yang menggunakan kaidah kaidah logika, tetapi karena dalam berdialog  yang klaim sebagaidiskusi itu bukan lagi mencari kebenaran, yang dicari adalah kemenangan maka logika yang dipakai tidak lagi logika yang benar, tetapi lebih bayak diwarnai dengan logika fallasi seperti layaknya orang berdebat. Benar …, yang semula dia katakan untuk berdiskusi lalu serta merta berubah jadi berdebat.

Berdiskusi dan berdebat itu sangat berbeda. Bila berdiskusi itu adalah mencari mana yang paling baik dan paling benar, maka berdebat adalah dalam rangka mencari kemenangan dalam bicara. Dan kemenangan itu ditandai dengan kalahnya lawan bicara, tanda tanda lawan bicara itu telah kalah, adalah tidak mau lagi melanjutkan debatnya.Sekali laghi saya tegaskan “Debat adalah mencari kemenangan”

Jika ingin mencapai mengeti dan faham seperti  apa yang diinginkan oleh Guru Besar PS, maka jangan lah dibiasakan disksu dengan cara berdebat. Tetapi pada umumnya orang dalam diskusi selalu saja praktiknya adalah terjadi perdebatan, dalam diskusi maka perdebatan selalu saja tak terhindarkan.

Perdebatan itu akan selalu terjadi manakala kita lebih didominasi oleh otak kiri. Pada Otak kiri terdapat logika dan akademik yang lalu membentuk sikap kritis. Sekolah sekolah formal umumnya hanya membangun dan mempertajam otak kiri, dan menelantarkan otak kanan. Sehingga orang terdidik melalui pendidikan formal akan menjadi orang yang kritis. Orang orang cerdas otak kiri ujung ujungnya menjadi kritis, dan semakin kritis seseorang dianggapsemakin cerdas.Jelas kecerdasan seperti tidak akan dikembangkan oleh PS

Lalu bagaimana berdiskusi cara cara yang harus ditempuh oleh para anggota PS, karena jurus PS lebih cenderung menghidupkan dan mengembangkan otak kanan, pada otak kanan itu terdapat kreativitas dan intuisi  maka berdiskusilah dengan otak kanan, kedepankan otak kanan, pakai otak kanan dahulu baru gunakan otak kiri kemudian.

Karena PS lebih mengemukakan otak kanan maka hindarilah perdebatan, perdebatan adalah ciri otak kiri, maka dalam berdiskusi jangan mengedepankan perdebatan. Manakala  anggota PS lebih mengedepankan otak kiri dibanding otak kananya. maka anggota tersebut disebut di mata dianggap sebagai orang yang bermasalah. Sebuah hadits mengatakan manakala seseorang menghindari perdebatan padahal sejatinya dia adalah benar maka Allah akan membuatkan dia rumah di syurga intempat yang indah, sementara bila seseorang menghindari perdebatan padahal memang sesungguhnya dia adalah salah, maka Allah akan membuatkan dia rumah di syurga tetapi bukan ditempat yang indah.

Otak kiri yang dibekali sikap akademik, logika yang membentuk cara berfikir kritis, tidak mampu menerima informasi yang tidak linier, berbeda halnya dengan otak kanan, otak kanan memiliki daya kreativitas dan intuisi, dengan kekuatan itu otak kanan akan memiliki kemampuan menerima informasinya yang tidak linier sekalipun. Sehingga yang bersangkutan tidak senang berdebat. Seseorang yang mengedepankan otak kanannya akan memiliki keterampilan menerima informasi yang kurang matang sekalipun, informasi yang kurang matang itu akan diaolahnya dengan kreativitas dan intusinya terlebih dahulu, baru menetapkan untuk menerima atau menundanya, tidak erlu ada perdebatan, dan tidak perlu ada yang harus dikalahkan.

Berdasarkan hasil penelitian ternyata orang orang yang berhasil sukses terutama dalam berniaga adalah merka yang lebih mengedepankan otak kanan dengan intusinya dibanding dengan otak kirinya yang berisikan akademik, logika dan daya kritis. Bila kebetulan anda berprofesi sebagai pedagang dan anda kebetulan juga senang berdebat, anda senang berdebat dengan para elanggan, anda membuat pelanggan kehabisan kata kata, anda mwengalahkan para pelanggan itu dalam berdebat,  maka tunggu saja  para pelanggan anda akan kabur, dan usaha anda akan kolep.

Itulah kira kira gambaran cara diskusi yang mana yang harus dihindari oleh  anggota PS dan mana yang harus ditempuh anggota PS dalam rangka mencapai mengerti dan paham. Marilah kita ingat kembali bagaimana kisah Nabi Khaidir yang muridnya diajarkan untuk menggunakan otak kanan dalam belajar kepadanya. Tetapi ternyata muridnya justeru mengunakan otak kiri, yang kritis, bahkan protes kepada Nabi Khaidir.  Wallohua’lam bishowab (Sekayu, 3 November 2015)

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s