Lailaaha Illallaah, Kitapun Selamat Dari Siksa Neraka

Fachruddin PS LampungSeusai sholat Ashar tadi sore 1 November 2016 di Masjid Alburhan Jl. Basuki Rahmat Palembang ada kultum, dengan membacakan sebuah hadits yang mengatakan bahwa  kelak Allah akan berfirman agar mereka yang pernah membaca Lailaaha Illallaah dalam hidupnya  dikeluarkan dari neraka. Lalu  si penceramah menguraikan  bahwa nanti pada suatu saat orang tak lagi melaksanakan ajaran Islam, tidak bersyahadat, tidak sholat, tidak puasa, tidak zakat dan tidak pula haji. Mereka tidak melakukan ibadah apapun, hanya ada diantara mereka yang secara samar samar ingat cerita bahwa dahulu pernah ada agama yang mengajarkan membaca Laailaaha Illallah. Dan banyaklah mereka membaca Laailaaha Illallaah, tidak lebih, karena tak ada yang bisa mengajarkannya.

Mereka mereka yang membaca Laailaaha Illallaah pada saat atau generasi itu akan termasuk sebagai orang orang yang dikeluarkan dari siksa neraka, demikian dahsyatnya bacaan zikir itu, tambah si penceramah. Oleh karenanya marilah kita lazimkan berzikir setiap hari ajaknya si penceramah menutup ceramah singkatnya. Setelah menjawab salam sejumlah jama’ah saya lihat tidak beranjak dari duduknya, sepertinya mereka membaca dzikir Laailaaha Illallaah, kalau benar maka dugaan saya mereka dzikir dalam hitungan 33 kali.

Bagi anggota Prana Sakti tidak hanya sebatas itu, dzikir Laailaaha Illallaah, bukan hanya menyatu dalam nafas, sehingga zikir otomatis dilakukan  selagi hayat dikandung badan, tetapi dzikir juga menyatu dalam segala aktivitas, bukan hanya gerakan kaki dan tangan, tetapi dzikir Laailaaha Illalllaah  juga menuntun hati setiap para anggotanya.

Dan demikian juga maka berarti zikir menuntun anggota dalam beraktivitas, mulai dari dalam berfikir, dalam bersikap, dalam berbicara, dan dalam seluruh aktivitas kehidupannya.

Sebagai contoh bagi seorang anggota PS yang berprovesi sebagai seorang guru, maka dzikir Laailaaha Illallaah akan hadir ketika Ia mempersiapkan konten pembelajara, Allah  dihadirkan dalam proses pembelajaran, Allah dihadirkan dalam membuka atau memulai belajar,  Allah dihadirkan dalam membahas mata pelajaran, Allah dihadirkan dalam dialog dengan para murid, Allah dihadirkan dalam evaluasi, artinya seorang siswa dianggap memahami mata pelajaran manaka memiliki kemampuan apa hubungan materi pelajaran dengan Allah SWt. lalu bagaimana mengaplikasikan ilmu yang diturunkan kepada siswa dalam keitannya dengan kepatuhan kepada Allah Swt.

Dengan demikian maka seorang guru juga mempersiapkan sebuah generasi yang kalimah Laailaaha Illallaah akan ada selalu dalam setiap nafasnya, dalam berfikir, bersikap dan berbuat sesuatu tak terlepas dari Allah, dzikir kepada Allah, dan berarti juga keselamatan bagi generasi itu Wallohu a’lam bishowab. (Palembang  1 November 2016).

 

Penulis: Fachruddin

Saya Fachruddin, District Advisory Team (DAT) pada PT. Tetira International Consultants Jakrta, Kerjasama dengan ADB dalam rangka Pelaksanaan Pengembangan Kapasitas Penerapan SPM Dikdas, di Wilayah Suamtera Selatan. Saya mengelola Blog, dan menulis di Blog tersebut, walaupun tulisan hanya tulisan populer, dan tidak terlalu mendisiplinkan diri dalan kaidah ilmiah. Namun diharapkan tulisan tersebut dapat dijadikan bahan saya berkomunikasi dengan para pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s